Showing posts with label Rona Kehidupan. Show all posts
Showing posts with label Rona Kehidupan. Show all posts

Tergoda Sang Mantan

Tergoda Sang Mantan
Nama saya Juwita (bukan nama sebenarnya), usia 45 tahun. Sudah sekitar 23 tahun saya berumah tangga dan dikaruniai 2 anak yang telah menginjak remaja. Selama ini rumah tangga saya berjalan harmonis, meskipun dari segi ekonomi kurang begitu beruntung. Suami saya adalah lelaki yang baik dan bertanggung jawab, sedangkan anak-anak saya (semuanya laki-laki) tergolong tampan dan pandai di sekolah.

Sekitar 2 tahun lalu saya bertemu mantan pacar saat acara reuni di Jakarta dengan teman-teman SMA yang tinggal dan mencari nafkah di sana. Waktu itu semuanya berjalan biasa saja. Kami saling bertukar cerita tentang keluarga masing-masing. Ia, sebut saja Romi, punya 4 anak dan dari ceritanya, ia tampaknya mempunyai karir yang cukup sukses.

Beberapa bulan kemudian saya menerima SMS dari Romi. Mula-mula jarang,tapi lama kelamaan makin sering. Sesekali ia menelepon dan kami ngobrol panjang lebar tentang banyak hal.

Entah kenapa, kemudian muncul rasa rindu jika ia tak mengirim SMS atau menelepon. Kalau rindu itu sudah tak tertahan, sayalah yang berinisiatif mengirim SMS. Tentu saja hal itu saya lakukan sembunyi-sembunyi. Suatu ketika, saat saya sedang mandi ponsel saya berbunyi karena ada SMS masuk dan anak kedua saya spontan membaca nama pengirim yang tertera di layar. Dengan polos ia meneriakkan nama pengirim SMS yang tak lain adalah Romi. Suami saya marah, karena ia tahu Romi adalah mantan saya. Beruntung ia tidak usil membaca SMS itu, dan saya jelaskan kalau hanya sekedar "say hello" darinya.

Sejak kejadian itu, saya ganti nama di ponsel dengan nama cewek dan saya makin keasyikan berSMS dan bertelepon ria dengan Romi. Wajah Romi pun selalu menghiasi pikiran saya setiap saat setiap waktu, misal sedang nonton TV, memasak, mau tidur, atau bangun tidur. Saya jadi suka berkhayal sedang bermesraan dengan Romi, meskipun saat itu sedang bermesraan dengan suami.

Saya sudah berusaha sholat malam agar bisa melupakannya, tapi tidak bisa. Justru keinginan saya untuk bersama Romi makin kuat.

Apakah saya termasuk selingkuh? Apa yang harus saya lakukan?


Jawab :

Ibu Juwita yang sedang tergoda,

Tampaknya Anda sedang jatuh cinta. Dan jatuh cinta tidak memandang usia, pendidikan, agama, maupun status perkawinan. Banyak kasus seperti yang Anda alami, dan jika Anda jujur dengan mengatakan bahwa cinta Anda sebatas berkhayal, bisa dikatakan itu masih dalam batas wajar.

Mengutip lirik lagu almarhum Gombloh, "Kalau cinta melekat, tai kucing rasa coklat", adalah ungkapan yang sangat tepat untuk menggambarkan perilaku orang yang sedang kasmaran. Semuanya tampak indah, meskipun sebenarnya mengandung kebusukan. Yang jadi masalah adalah, baik Anda maupun Romi, sama-sama sudah berkeluarga.

Sudah jamak terjadi, perselingkuhan berlanjut hingga ke tempat tidur. Di tinjau dari sisi apapun, hal itu jelas salah. Resikonya pun bisa sangat fatal, mulai dari kemungkinan terjangkitnya penyakit kelamin, HIV/AIDS, sampai hancurnya rumah tangga.

Menghapus cinta yang tumbuh, termasuk cinta terlarang seperti yang Anda alami, bisa sangat sulit. Sama sulitnya dengan menghentikan kebiasaan merokok. Meskipun pemerintah gencar mengkampanyekan bahaya merokok bagi kesehatan, tetap saja banyak kita jumpai perokok-perokok di sekitar kita. Demikian juga dengan cinta. Wanita akan serahkan segalanya kepada pria idamannya. Segalanya!

Apakah itu termasuk perselingkuhan? Ya, karena Anda telah membagi fokus pikiran Anda pada orang lain selain suami dan anak-anak Anda.

Sejumlah pakar seks menyatakan, bahwa ada perbedaan mendasar dalam hal selingkuh antara pria dan wanita. Pria bisa berselingkuh meski tak didasari cinta, hanya didasari nafsu syahwat semata. Sedangkan wanita butuh proses yang agak rumit sebelum akhirnya jatuh di pelukan pria lain selain suaminya. Ia melibatkan perasaan, dan dalam hal ini adalah cinta. Sayangnya, Anda tidak memberi tahukan apakah Romi sama tergila-gilanya pada Anda seperti Anda tergila-gila padanya.

Ibu Juwita, disadari atau tidak, Anda telah memupuk rasa cinta itu dan itu bisa sangat berbahaya. Sekali Romi "menawarkan" Anda untuk berbuat lebih jauh, check in di hotel misalnya, Anda tak akan kuasa dan tak berkeinginan menolak. Apa pun latar belakang pendidikan, pengetahuan agama, ataupun norma-norma yang ditanamkan pada Anda, semuanya itu hanya akan menjadi dinding rapuh yang dapat dengan mudah Anda robohkan.

"Anda sama sekali tak punya alasan untuk menjadi pembenaran atas tindakan Anda. Suami yang baik dan anak-anak yang sempurna. Apa lagi yang Anda cari?"

Apakah hanya karena kurang beruntung secara ekonomi dan kemudian melihat Romi yang sukses membuat Anda mengorbankan semua yang telah Anda bina bersama suami Anda selama 23 tahun ini?

Jika ditimbang antara segi positif dan negatifnya, saya tak menemukan apapun yang bisa disebut positif. Semuanya hanya ada sisi negatif yang harus Anda pertimbangkan masak-masak, seperti :
  • Anak-anak Anda sudah menginjak usia remaja, yang artinya akan juga bisa menilai betapa salahnya Anda.
  • Dampak psikologisnya akan lebih besar pada anak-anak, karena bila kemungkinan terburuk terjadi, mereka akan dihadapkan pada pilihan yang tak mudah. Jelas itu akan mengganggu perkembangan psikologis dan pendidikan mereka.
  • Istri dan anak-anak mantan Anda pasti akan tersakiti juga andai Anda masuk ke kehidupan mereka.
  • Mantan adalah mantan yang Anda kenal di masa lalu. Orang berubah seiring berjalannya waktu. Mungkin dulu Anda mengenalnya hanya di permukaan saja, yang pastinya hal-hal baik. Pikirkanlah tentang ungkapan "Membeli kucing dalam karung". Artinya, tak ada kepastian bagi Anda untuk menjalani hidup yang jauh lebih baik dengan sang mantan daripada dengan suami Anda saat ini.
  • Sisa hidup Anda akan banyak diisi dengan kebohongan-kebohongan untuk mengamankan cinta terlarang Anda. Satu kebohongan akan diikuti dengan kebohongan lain. Resikonya, sekali ketahuan, Anda tak akan pernah dipercaya lagi seumur hidup.
  • Secara moril, Anda akan menyandang gelar "bukan wanita baik-baik" di sisa umur Anda.
  • Akan selalu ada korban akibat perselingkuhan, dan korban itu adalah orang-orang yang Anda kasihi.
  • Usia Anda sudah mendekati masa menopause. Artinya kehidupan seks Anda akan menurun, sementara pria butuh seks berapapun usianya.

Untuk itu, nasihat terbaik yang bisa kami berikan adalah lupakan mantan Anda dan jalani hidup yang nyata. Berikut ini tips kami :
  • Jangan manjakan pikiran Anda dengan khayalan-khayalan yang memabukkan itu. Energi Anda akan terbuang percuma dan Anda akan makin tenggelam dalam khayalan semu yang tak berujung yang membuat Anda makin frustrasi.
  • Lakukan aktifitas yang bermanfaat untuk keluarga, atau menyalurkan hobi, seperti memasak masakan yang belum Anda kuasai misalnya. Atau menjahit, merenda, dan lain-lain.
  • Jangan hanya berdoa untuk melupakannya, tapi tumbuhkan rasa bersyukur Anda atas rezeki yang Anda miliki saat ini. Rezeki tidak cuma materi, tapi juga kesehatan, kerukunan dalam rumah tangga, anak-anak yang tampan dan pandai, suami yang baik dan setia.
  • Ikuti secara aktif pengajian-pengajian guna mempertebal keimanan Anda.
  • Jangan tanggapi SMS atau telepon dari Romi. Bila perlu, ganti nomor ponsel Anda.
  • Tanamkan niat yang kuat untuk kembali ke jalan yang lurus.
  • Tanamkan juga dalam pikiran Anda, bahwa selingkuh itu salah, berdosa dan berbagai konsekuensi buruk lainnya.
  • Ingat-ingat kembali saat romantis Anda saat berpacaran dengan suami Anda atau detik-detik kelahiran anak-anak buah cinta Anda dengan suami.

Semoga bermanfaat. (jbss)

Sumber : Jangan Bilang Siapa-siapa

Read More

Tips Gila Selingkuh Aman

Tips Gila Selingkuh Aman
Pada umumnya selingkuh didasari atas cinta. Dan cinta itu sendiri sangat indah, hingga membuat mabuk kepayang. Makanya, pasangan selingkuh kerap menabrak norma-norma agama dan moral saking mabuknya. Hal ini tak ubahnya seperti ketika ia jatuh cinta untuk pertama kali pada pasangan sahnya. Hanya saja, karena ini bukan pasangan sah, makanya disebut selingkuh. Dan yang namanya selingkuh, pastilah dilakukan sembunyi-sembunyi dan butuh kewaspadaan tinggi agar tak kepergok. Celakanya, saat mabuk cinta terlarang itu mereka jadi kehilangan kewaspadaan alias lupa diri. Mereka jadi lupa bagaimana bersikap wajar kepada pasangan sahnya, atau lupa menghilangkan barang bukti yang di belakang hari bisa jadi bahan kecurigaan pasangan sah atas skandal yang dilakukannya. Itulah sebabnya dibutuhkan trik-trik khusus agar skandal berjalan mulus sampai kakek-kakek dan nenek-nenek, sukur-sukur bisa melanjutkan selingkuhnya di neraka sana.

Berikut ini tips dan trik dari seseorang, sebut saja Mr. X, yang rela berbagi ilmu berdasarkan pengalaman pribadinya, dengan harapan perselingkuhan Anda sukses, aman, tertib, lancar, sentosa, tata tentrem kerto raharjo, khususnya bagi Anda yang masih pemula. Halah!
  • Sebelum mulai berselingkuh, buang jauh-jauh norma yang Anda yakini, juga sisi manusiawi Anda, seperti rasa berdosa, bersalah atau kasihan kepada pasangan sah Anda. Dengan kata lain, jangan tanggung-tanggung. Kalau mau jahat, jahat sekalian. Ibaratnya, kalau mau jadi maling, jadilah maling gede-gedean. Nyolong uang rakyat, misalnya. Jangan cuma maling ayam.
  • Siapkan mental-spiritual Anda baik-baik. Dari segi mental, untuk berjaga-jaga siapa tahu perselingkuhan Anda ketahuan yang akibatnya bisa sangat tak terbayangkan, seperti perceraian, dipecat dari jabatan, dicemooh dan dihujat. Khusus bagi wanita, siap-siap untuk dijuluki wanita murahan, kegatelan, pel**ur, per*k, jawilem (dijawil gelem = dicolek mau) dan sejenisnya yang membuat telinga merah. Dari segi spiritual, tak perlu bersibuk-sibuk ibadah, karena dosa yang harus Anda tanggung jauh lebih besar daripada pahala yang Anda peroleh. Lagi pula, tidak enak ‘kan kalau disebut STMJ (Sholat Terus, Maksiat Jalan)?
  • Pastikan lebih dahulu kalau selingkuhan Anda tidak memiliki sifat yang mungkin akan bermasalah kelak di kemudian hari, seperti materialistis, posesif, tukang cerita, pendendam, penyakitan, tampangnya tidak lebih ganteng/ cantik dari pasangan sah Anda, dan yang lebih parah lagi, tidak menyukai Anda!
  • Pastikan juga selingkuhan Anda tidak dikenal oleh pasangan sah Anda, seperti teman/ sahabat pasangan sah Anda, mertua Anda, kakek/ nenek pasangan sah Anda atau anjing/kucing peliharaan tetangga Anda!
  • Usahakan jangan selingkuh yang berembel-embel CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali atau Cinta Lama Belum Kelar). Kalau itu terjadi, berarti Anda kuper dan bukan tergolong orang yang kreatif.
  • Jangan sekali-kali selingkuh dengan orang terkenal, karena akan cepat terendus wartawan dan usia skandal Anda tidak akan bertahan lama. Abaikan tips ini kalau Anda memang ingin ngetop secara instan.
  • Saat sudah terlibat dalam perselingkuhan, jangan pernah menunjukkan perubahan sikap pada pasangan sah Anda. Dengan kata lain, Anda harus mampu berakting layaknya bintang sinetron. Bila Anda ragu dengan kemampuan Anda, tak ada salahnya mendaftar ke sekolah akting profesional.
  • Siapkan dana simpanan lebih, untuk bayar hotel, restoran, pulsa, dan bensin. Bila pasangan selingkuh Anda matre (materialistis), Anda akan butuh dana lebih banyak lagi menuruti permintaannya, misalnya perhiasan, sepatu, ponsel, pakaian (luar dan dalam), dan mungkin mobil atau bahkan rumah lengkap dengan perabotannya!
  • Jika hendak ketemuan dengan selingkuhan Anda, siapkan skenario dan alasan yang logis ke pasangan sah Anda. Jika perlu menggunakan orang lain sebagai alasan, carilah orang yang tidak dikenal pasangan Anda, tapi familiar di telinganya, karena Anda sering membicarakannya. Obama, misalnya. “Ma, papa mau jalan sama Obama. Dia ngajak makan bakso tuh”, kira-kira seperti itulah alasan Anda. Pasangan Anda tidak mungkin akan mengkonfirmasi kebenaran alasan Anda pada Obama ‘kan?
  • Gunakan nomor seluler sendiri yang hanya Anda berdua yang tahu. Syukur-syukur ponsel sendiri juga, untuk berjaga-jaga siapa tahu Anda lupa menghapus SMS mesra dari kekasih gelap Anda. Kalau ketahuan, pasangan sah Anda akan langsung nyanyi “bang, sms siapa ini, bang ...
  • Rajin-rajinlah ikut senam, fitness dan sejenisnya agar fisik Anda tetap prima dan siap pakai. Apalagi seandainya saat “bertempur” ada penggerebekan, Anda masih punya cukup tenaga untuk ambil langkah seribu. Belum lagi ketika sampai di rumah, pasangan Anda minta jatah, Anda akan masih cukup perkasa untuk melayaninya. Anda hebat bukan?!
  • Saat hendak berkencan hindari pemakaian parfum yang berlebihan, karena aromanya akan menempel di tubuh pasangan Anda. Ingatkan pasangan Anda untuk melakukan hal yang sama. Bila perlu, tak perlu pakai parfum sekalian, karena, kemungkinan paling buruk, pasangan sah Anda hanya akan mengira Anda habis kongkow-kongkow dengan kambing dan itu tak akan membuatnya curiga.
  • Bagi kaum wanita, pastikan kompor sudah dimatikan sebelum Anda berangkat kencan. Jangan sampai Anda pulang kencan, rumah ludes terbakar. Pastikan pula makanan untuk anak-anak Anda sudah siap dan mereka dalam pengawasan yang semestinya. Jangan sampai Anda kenyang batiniah, tapi anak-anak di rumah kelaparan dan terlantar.
  • Jangan berkencan di hotel kelas Melati, karena biasanya hotel seperti itu sasaran empuk untuk digerebek. Malu ‘kan dikerubuti polisi dan wartawan dalam keadaan ngos-ngosan?
  • Jangan berkencan secara berkala di hotel dan kamar yang sama. Siapa tahu ada yang iseng memasang kamera mini di kamar itu dan tahu-tahu adegan hot Anda menyebar di internet. Tapi kalau Anda pengen ngetop, abaikan saja tips ini.
  • Jangan merekam aktifitas bercinta Anda, baik dalam bentuk foto maupun video, di ponsel. Bila ponsel Anda hilang, tak butuh waktu lama hasil rekaman Anda akan beredar di internet. Tapi kalau Anda type orang narsis, abaikan tips ini.
  • Usai berkencan, pastikan tidak ada satupun benda seperti nota pembayaran hotel, restoran, karcis parkir, kas bon, dan lain-lain terbawa oleh Anda. Termasuk bekas lipstik, sp**ma, ko**om, rontokan rambut dan cupang (bekas merah di sekujur tubuh Anda). Dan, jangan lupa, jika Anda keramas, biarkan rambut Anda kering dulu. Ini penting saat perselingkuhan terjadi pada musim kemarau karena kalau beralasan pulang telat gara-gara kehujanan pasti nggak masuk akal!
  • Selalu bawakan oleh-oleh/ buah tangan untuk keluarga di rumah yang mungkin bisa mengurangi rasa bersalah Anda.
  • Banyak-banyaklah bergaul dengan sesama peselingkuh atau bergabung dengan komunitas selingkuh misalnya, agar ilmu selingkuh Anda makin canggih.
  • Terakhir, jangan buru-buru merasa menyesal setiap kali Anda selesai berbuat maksiat. Percayalah, perasaan itu hanya muncul sesaat. Dalam 2 atau 3 hari, paling lama 1 minggu lah, hasrat Anda untuk mengulangi lagi akan kembali membara. Kalau Anda terus-terusan ‘sok’ menyesal, nanti lama-lama menyesal betulan lho. Sayang ‘kan kalau sampai putus dengan selingkuhan Anda, lha wong selingkuh itu mak nyus je!
  • Mulailah benar-benar menyesal saat Anda shock karena tertangkah basah sedang asyik masyuk (dan asyik kelyuar tentunya) dengan pasangan selingkuh Anda. Tak butuh akting untuk soal ini, kecuali kalau Anda tergolong orang berhati dingin atau bahkan tak punya hati sama sekali. (Mr. X)

Catatan Admin :
Ikuti curhat Mr.X tentang pengalaman kelamnya di blog Jangan Bilang Siapa-siapa sebagaimana diceritakan kepada mp2. Di situ ia menggunakan nama samaran “Bandot” (mp2)


Read More

Antara Cinta dan Dosa

Antara Cinta dan Dosa
Lepas tengah malam, tiba-tiba HP-ku berbunyi,”Tit... tit... tit ...” Sebuah pesan singkat berbunyi,"Yang, aku kangen banget sama kamu". Gombal, bisik hatiku sambil tersenyum kecut. Bagaimana mungkin Raffael bisa mengirim SMS demikian jika kemarin baru saja kencan denganku? Tetapi SMS itu tidak urung membuatku bahagia. Hatiku seperti tersanjung dan berbunga-bunga. Bayang-bayang wajah ganteng Raffael seolah terus menari di pelupuk angan dan lamunanku. "Gombal, bukankah kemarin kita baru bertemu?" jawabku via SMS juga. "Tidak sayang, aku nggak ngegombal. Suer, aku ingin sekali kamu berada di sisiku setiap waktu," cepat sekali Raffael membalas SMS-ku.

Duh, Gusti..., hatiku serasa meleleh. Kulirik suamiku, Arman, telah tidur pulas di sampingku. Sepintas, kuperhatikan Mas Arman dengan seksama. Tidurnya tampak damai sekali. Mungkin sudah dibuai mimpi-mimpi indah. Mungkin saja. Diam-diam aku telah merasa berdosa dengannya. Dengan Mas Arman. Dia telah berbuat banyak untuk keluarga. Untukku, dan untuk anak-anak kami pula. Mas Arman memang telah berbuat banyak. Sedang aku? Perasaan berdosa itu kembali menyelinap ke benakku yang paling dalam. Terus terang, Mas Arman memang lelaki yang tidak pernah aku cintai. Perkawinanku dengannya semata-mata hanya untuk memuaskan hati orangtua. Orangtuaku melihat Mas Arman lebih mempunyai masa depan, ketimbang Raffael yang "hanya" seorang pelukis itu. Orangtuaku “mengharamkan" kehadiran Raffael di hatiku, dan terus berusaha menyingkirkannya dari hidupku.

"Apa yang bisa kamu harapkan dari seorang pelukis seperti Raffael itu?" Ribuan kali ungkapan demikian meluncur dari bibir orangtuaku. "Jika kamu masih nekad jalan bareng sama dia, lebih baik kami kehilangan kamu!" Ultimatum itu membuatku yang nyaris tidak pernah kesulitan akhirnya keder juga. Ketakutan itu pula yang membuatku luluh. Dengan berat hati, terpaksa aku terima kehadiran Mas Arman sebagai suami "pilihan orangtua". Kami pun mulai membangun rumah tangga, dan aku berusaha mati-matian untuk melupakan Raffael. Tetapi prosesnya tidak semudah membalik telapak tangan. Lama sekali, baru aku bisa melupakan lelaki yang amat aku cintai dengan sepenuh hati itu.

Setelah perkawinanku dengan Mas Arman, Raffael sendiri seperti hilang ditelan bumi. Aku tidak tahu, di mana rimbanya si jantung hatiku itu. Tetapi kemudian aku memperoleh kabar dari beberapa kawanku, yang mengatakan Raffael nekad belajar melukis di luar negeri. Kabarnya, dia pergi ke Belanda setelah beberapa lama berkesenian di Pulau Dewata, Bali. Lama-lama memang aku berhasil melupakan Raffael. Aku pun mulai belajar mencintai keluargaku. Mencintai suami, dan tentu juga anak-anakku. Hidupku sepenuhnya aku persembahkan kepada mereka. Aku telah berjanji dalam hati untuk tidak akan mengecewakan mereka. Orangtuaku aku kira tidak salah memilih Mas Arman sebagai suamiku. Dia tidak saja baik, tetapi juga amat bertanggung jawab pada keluarga. Pekerjaannya pun sangat mapan. Perusahaan papa yang dikendalikan Mas Arman, makin hari makin menunjukkan eksistensinya. Papa dan mama pun puas sekali dengan hasil pekerjaan Mas Arman. Keberhasilan Mas Arman dalam mengelola sebagian usaha orangtuaku, sering kali membuatku ikut-ikutan merasa tersanjung. Perasaan ini mencuat, ketika papa memuji-muji Mas Arman. Bahkan, Mas Arman pun sering kali dijadikan tauladan buat memacu adik-adikku. "Contoh itu Masmu, Arman, kalau bekerja nggak pernah setengah hati". Demikian antara lain celetukan papa atas pujiannya pada suamiku di hadapan adik-adikku.

Ketika aku sudah hampir bisa melupakan Raffael, pertemuan tak terduga tiba-tiba terjadi. Suatu hari, iseng-iseng aku melihat sebuah pameran lukisan di Balai Pemuda, Surabaya. Bukan pameran lukisan tunggal, melainkan pameran lukisan bersama, ada sekitar tujuh orang pelukis yang berpameran. Mereka masih sangat muda-muda. Mungkin, baru dalam proses "membuat" nama sebagai seorang pelukis profesional di jagad seni rupa. Kedatanganku ke pameran itu pun sebenarnya hanyalah iseng. Ketika jalan-jalan di Surabaya, secara tak sengaja aku melihat sebuah pamflet yang ditempel di salah satu sudut kafe tempatku bersantap malam. Pamflet itulah yang memberitahuku adanya pameran lukisan karya tujuh perupa muda. Karena aku sendiri memang suka dengan lukisan, kesempatan itu tidak aku sia-siakan. Habis makan malam langsung saja aku ngeloyor pergi ke tempat pameran. Aku datang ke tempat pameran itu seorang diri. Nah, ketika sedang asyik-asyiknya menikmati sebuah lukisan yang menurutku cukup bagus, tiba-tiba bahuku ditepuk dari belakang. Aku terkejut, dan secara spontan langsung menoleh ke belakang. Tatapan mataku terbelalak. Aku tak percaya, kalau yang berdiri di hadapanku itu adalah Raffael, lelaki yang pernah singgah di hatiku. Raffael masih seperti yang dulu. Ketika aku mengucek mata dengan jari tanganku, tiba-tiba dia pun nyeletuk,"Kamu tidak sedang bermimpi, Yang … ini benar-benar aku, Raffael".

Ah, lelaki itu seperti tahu apa isi hatiku. Memang, pertemuan yang tak terduga-duga itu, aku kira hanyalah mimpi. Hampir-hampir aku tak mempercayainya. Sulit sekali bagiku untuk percaya bahwa pertemuan itu benar-benar terjadi. Bukan mimpi ataupun ilusi. Kami pun melewatkan pertemuan yang tak terduga-duga itu dengan ngobrol di salah satu sudut ruangan tempat pameran. Raffael menanyakan keadaanku sekarang, juga anak-anakku dan keluargaku. "Wah, tampaknya kamu bahagia sekali, ya," celetuk Raffael setelah bertanya-tanya tentang keluargaku. "Syukurlah kalau begitu, aku ikut bahagia," lanjutnya kemudian.

"Kamu sendiri, bagaimana? Berapa anakmu?" aku pun balik bertanya. Raffael tak segera menjawab. Dia hanya tertawa. "Aku masih jomblo hingga sekarang. Siapa yang mau kawin dengan seniman kayak aku begini?" kata Raffael membuat hatiku mendadak berdesir. Tiba-tiba aku pun teringat penghinaan orangtuaku terhadap Raffael. "Pelukis seperti Raffael itu tak punya masa depan," kata-kata papa kembali mengiang di telingaku. Aku pun buru-buru berusaha menetralisir keadaan, dengan melemparkan sebuah pernyataan kepada Raffael,"Ah, kamu ini, sejak dulu selalu saja merendah. Itu karena kamunya saja yang nggak niat". Raffael malah tertawa-tawa mendengar pernyataanku itu. "Kamu ini masih tetap seperti dulu, ya, pinter sekali menghibur orang," sergah Raffael tak mau kalah.

Begitulah, sejak pertemuan itu hubunganku dengan Raffael diam-diam kembali terajut.Yang membuatku amat terkesan, Raffael benar-benar tipe lelaki yang sangat romantis. Benda-benda pemberianku semasa SMA dulu hingga kini masih disimpannya dengan rapi di sebuah tempat khusus. Termasuk surat-surat cinta dan puisi-puisi yang pernah aku tulis khusus untuk dirinya. Yang membuatku paling terkesan, di salah satu sudut kamarnya terpajang sebuah lukisan, yang menurutku bagus sekali. Lukisan seorang wanita telanjang dengan lekuk-lekuk tubuh yang sangat eksotis. Meski aku merasa tidak pernah dilukis telanjang oleh Raffael, namun wajah wanita dalam lukisan itu mirip sekali dengan wajahku. Terus terang, aku sangat terkejut ketika pertama kali melihat lukisan itu. Aku pun sempat bertanya-tanya, kapan Raffael melukis aku telanjang bulat seperti ini?

Rupanya, Raffael menangkap kegelisahanku. Dia pun segera berusaha menjelaskan dan minta maaf padaku. "Maaf, ketika aku melukis ini, yang muncul dalam inspirasiku adalah wajahmu. Jadi, begitulah hasilnya. Tetapi kalau kamu tidak suka, gampang kok, aku bisa membakarnya sekarang juga," ungkap Raffael. "Di bakar? Lukisan sebagus ini akan kamu bakar? Ah, jangan! Aku suka kok," tiba-tiba aku tidak sampai hati melihat Raffael seperti itu. "Tetapi kamu nakal! Penjahat kesenian," kelakarku dalam kunjungan pertama kaliku di kediaman Raffael itu. "Penjahat bagaimana?" Raffael penasaran dengan istilahku. "Kalau ada yang lihat dengan lukisan ini dan kebetulan kenal dengan aku, apa nanti mereka nggak bilang kalau aku telah menjadi model lukisan telanjangmu," jelasku, yang dengan mudah dimengerti Raffael. "Kalau begitu, sekalian saja kamu sekarang telanjang terus aku lukis, biar aku nggak dibilang penjahat kesenian. Ha ... ha ... ha..."

Canda kami berdua berlanjut. Entah bagaimana awalnya, Raffael tiba-tiba menjamah tubuhku. Dan, anehnya, seperti terkena pengaruh hipnotis, aku pun diam saja. Bahkan, sesekali aku pun memberikan pancingan-pancingan yang membuat Raffael menjadi geregetan kepadaku. Diam-diam, sejak pertemuan yang tak terduga-duga itu, aku sering membuat janji kencan dengan Raffael. Sejauh ini, aman-aman saja. Mas Arman yang terlalu sibuk dengan bisnisnya, nyaris tak punya waktu untuk memperhatikan aku. Walau demikian, kadang menyelinap juga kekhawatiranku. Bagaimana kalau Mas Arman sampai tahu perselingkuhanku ini? (Seperti yang dituturkan Larasati kepada Roy Pujianto)R.26

Sumber : Majalah Fakta No. 569

Read More

Aku Bukan Pembunuh

Aku Bukan Pembunuh
Di rumah kosong yang memang sangat sepi itu akhirnya kami melakukan perbuatan terlarang yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh pasangan suami-istri.

Namaku Marni. Aku dibesarkan dari sebuah keluarga yang cukup bahagia. Meski gaya hidup keluarga kami sederhana tapi aku dan kedua adikku tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang. Kedua orangtua kami adalah orang-orang yang cukup ulet dalam bekerja dan senantiasa mengajari kami nilai-nilai agama yang kokoh, agar kelak bisa kami jadikan pedoman dalam menjalani kehidupan. Sejak duduk di bangku SD, aku bercita-cita ingin menjadi perawat dan bekerja di rumah sakit. Tidak mengherankan jika sedang bermain dengan teman-teman, aku selalu memerankan diri sebagai seorang perawat. Selain itu jika di sekolah ada perayaan tujuh belasan dan kami diwajibkan berpawai dengan memakai kostum tertentu, aku memilih kostum berwarna putih dengan tutup kepala bertanda palang merah.

Cita-cita itu terus terbawa sampai aku duduk di bangku SLTA. Sayangnya setelah lulus SLTA aku tidak melanjutkan ke sekolah perawat, aku malah ingin bekerja. Pada saat bersamaan, aku mulai dilanda jatuh cinta pada salah seorang tetanggaku. Rumah kami memang berdekatan dan aku tidak pernah mengira akan jatuh cinta kepadanya. Nama pria itu Darman. la kakak kelasku di SLTA. Orangnya pendiam dan berwajah cukup ganteng. Sifat pendiam dan wajah ganteng itulah yang agaknya membuat jantungku selalu berdebar setiap berdekatan dengannya.

Tak kusangka Darman pun memendam rasa yang sama dengan diriku. Singkat kata, kami berdua kemudian berpacaran.

Berbeda dengan aku, Darman melanjutkan sekolah ke sebuah akademi di kota lain. Karena itu otomatis kami hanya bertemu sebulan sekali, yakni saat ia pulang mengambil uang bulanannya. Karena aku sedang mencari kerja, dari salah seorang teman aku mendapat informasi bahwa Depnaker di Kota Solo, Jawa Tengah, kota tempat tinggalku, sedang mencari lulusan SLTA untuk dipekerjakan sebagai operator produksi di Pulau Batam. Tanpa sepengetahuan kedua orangtuaku, aku memasukkan lamaran kerja. Sebab aku khawatir jika mereka tahu, pasti tidak akan mengijinkan aku pergi merantau. Ternyata di luar dugaan aku diterima di sebuah perusahaan perakitan barang elektronik, dan akan segera diberangkatkan dalam waktu beberapa minggu lagi. Tentu saja aku sangat bahagia. Namun di tengah kebahagiaan itu tiba-tiba terselip perasaan khawatir kalau kedua orangtuaku dan Darman tidak mengijinkan kepergianku. Apalagi Pulau Batam sangat jauh dari tempat tinggalku.

Sebelumnya aku tidak pernah pergi sejauh itu. Namun, karena tekadku sudah bulat, kuutarakan juga kepada kedua orangtuaku niat pergi bekerja ke Pulau Batam. Dan, seperti yang sudah aku duga, orangtuaku dengan serta-merta menolak dan tidak mengijinkan aku pergi dengan alasan aku masih terlalu muda untuk merantau. Tapi dengan gigih aku terus meyakinkan mereka bahwa kepergianku adalah demi kebaikan keluarga. Kukatakan pada mereka bahwa sebagian gaji yang kukirim nanti bisa dipakai untuk melanjutkan pendidikan adik-adikku ke sekolah yang lebih tinggi. Kedua orangtuaku sangat terharu dan dengan hati yang berat mereka mengijinkan aku pergi. Sama dengan kedua orangtuaku, awalnya Darman keberatan dengan rencana kepergianku. "Kalau hanya untuk mencari kerja kenapa harus jauh-jauh kesana? Di kota lain kan banyak juga pekerjaan," komentar Darman tentang rencana keberangkatanku. Tetapi Darman pun tak bisa berbuat apa-apa dan terpaksa melepasku setelah kuceritakan panjang-lebar tentang niatku pergi ke Pulau Batam.

Kami menangis berpelukan ketika bis yang membawaku ke Jakarta (sebelum terbang ke Batam) mulai meninggalkan kota kelahiranku. Kedua orangtuaku dan adik-adikku juga tidak kuasa membendung tangis saat aku pamit. Dua tahun aku akan bekerja di Pulau Batam berarti selama itu pula aku tidak akan bertemu orang-orang yang aku cintai. Wajah bapak, ibu dan adik-adikku serta Darman, datang silih berganti meski aku telah menginjakkan kaki di Pulau Batam.

Hari-hari pertama bekerja, aku belum merasa betah dan rasanya ingin kembali ke Pulau Jawa. Terlebih saat aku menerima surat dari orangtuaku dan juga Darman, aku tidak berhenti menangis. Aku sangat merindukan mereka. Keadaan semacam itu berlangsung selama beberapa bulan. Untunglah kesibukan di tempat kerja dan kegiatan di luar cukup banyak sehingga sedikit demi sedikit aku mulai merasa terhibur. Aku mulai terbiasa dengan pola hidup di Pulau Batam. Selain itu, aku juga tetap setia pada Darman meski tidak sedikit teman-teman pria yang menaksirku dan terang-terangan menyatakan cinta kepadaku. Tapi bagiku tempat Darman tidak tergantikan oleh siapa pun, meski kami berjauhan. Terlebih surat-suratnya selalu datang silih berganti, memberi semangat tersendiri bagiku setiap aku merasa jenuh dengan suasana kerja yang monoton.

Tak terasa waktu dua tahun berlalu. Masa kontrak kerjaku telah selesai, itu berarti tiba saatnya aku kembali ke Jawa dan bertemu keluarga serta Darman. Namun saat aku bersiap-siap untuk pulang, aku memperoleh informasi bahwa aku termasuk salah satu karyawati yang dinilai baik prestasi kerjanya dan mendapat kesempatan untuk memperpanjang kontrak kerjaku. Akhimya aku menandatangani perpanjangan kontrak dengan pihak perusahaan. Meski demikian aku masih memperoleh kesempatan untuk pulang ke Jawa selama beberapa hari. Akhirnya hari yang kunanti itu tiba. Aku dan teman-teman satu angkatan pulang dengan kebahagiaan tiada tara.

Perjalanan dari Batam ke Jawa yang cukup melelahkan itu, tidak terasa lagi saat bertemu Darman dan keluargaku. Kupeluk mereka erat-erat. Darman yang kulihat semakin matang berkali-kali mengucapkan kata kangen di telingaku. Aku benar-benar bahagia. Hari-hari selama menunggu saat aku harus kembali ke Batam, kuhabiskan dengan banyak mengunjungi sanak-saudaraku dan tentu saja juga berjalan-jalan dengan Darman. Melihatnya sekarang aku semakin bertambah cinta dan sayang kepadanya. Aku ingin menghabiskan sisa hariku sebelum kembali ke Batam, dengan orang-orang yang kusayangi. Dua hari sebelum kembali ke Batam, terjadilah peristiwa yang seharusnya belum boleh kulakukan dan kelak akan mengubah jalan hidupku.

Saat itu seperti biasa, aku dan Darman jalan-jalan mencari buah tangan yang akan kubawa ke Pulau Batam. Tidak seperti biasanya, kami tidak langsung pulang melainkan singgah di sebuah taman yang di dalamnya terdapat rumah-rumah kosong. Ketika itu gerimis kecil mulai turun sehingga kami memutuskan untuk berteduh di salah satu rumah-rumahan itu. Mulanya kami hanya saling berpegangan tangan sambil ngobrol ke sana ke mari. Tiba-tiba Darman mencium pipiku dan mengatakan bahwa ia sangat mencintai aku. Menurutnya selama aku pergi ia sangat tersiksa karena dilanda kerinduan yang dalam. Aku pun mencium pipinya. Saat kami masih bertatapan, kami berdua terus saja berciuman. Entah setan mana yang merasuki kami, di rumah kosong yang memang sangat sepi itu akhirnya kami melakukan perbuatan terlarang yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh pasangan suami-istri. Aku menangis tersedu-sedu saat menyadari bahwa kami telah berbuat terlalu jauh. Darman yang tampak kebingungan hanya memelukku erat sambil menenangkan diriku. "Tidak akan terjadi apa-apa kalau kita melakukannya cuma sekali," bisiknya sambil tetap memelukku erat.

Kami berdua merasa gundah tapi segera bersikap seolah tidak terjadi apa-apa sewaktu kami sampai di rumah. Padahal rasa nyeri di selangkanganku tak terperi rasanya, namun aku mencoba bersikap wajar. Tiba saatnya aku harus kembali ke Pulau Batam. Kali ini seperti dulu, saat mengantarku, orangtua dan adik-adikku saling bertangisan. Saat itu Darman nampak tak banyak bicara. Ia kembali menenangkan aku seraya membisikkan bahwa tidak akan terjadi apa-apa padaku akibat hubungan terlarang yang telah kami lakukan.

Setibanya di Batam, ingatanku tetap melayang pada kejadian itu. Terkadang aku dibayangi ketakutan jika tiba-tiba aku mengalami kehamilan. Terlebih saat aku baca sebuah buku tentang kehamilan yang dulu pernah aku beli. Menurut buku itu, kehamilan bisa saja terjadi meski hubungan intim yang dilakukan cuma sekali. Ternyata Tuhan memang menghukumku karena perbuatan terlarang yang aku lakukan bersama Darman. Menstruasi yang biasa datang pada pertengahan bulan, tiba-tiba tidak datang. Aku mulai panik. Aku memberanikan diri bertanya pada perawat di klinik tempat aku bekerja perihal menstruasiku yang tidak datang bulan ini. Perawat yang memeriksa hanya mengatakan bahwa mungkin saja aku merasa kecapekan atau merasa tertekan sehingga hormon dalam tubuhku mengalami perubahan dan berakibat pada siklus menstruasiku. Lega rasanya aku mendengar penjelasan itu, namun hal itu tidak berlangsung lama. Sebab pada bulan berikutnya, aku kembali tidak mengalami haid. Kali ini bahkan diiringi dengan rasa mual dan sakit kepala seperti umumnya dialami perempuan yang tengah hamil.

Kepanikanku kian menjadi. Diam-diam aku membeli alat tes kehamilan yang dijual bebas di apotik untuk meyakinkan apakah aku hamil atau tidak. Hasilnya ternyata aku positif hamil ! Ya Tuhan ! Aku menagis histeris. Beberapa teman yang melihat kejadian ini ikut panik dan menganggap aku kesurupan seperti yang sering dialami operator di Batam karena merasa tertekan. Mereka memberiku air putih dan minyak kayu putih sembari memintaku beristighfar. Tetapi aku tetap menangis histeris sampai aku merasa capek sendiri dan tertidur. Setelah aku bangun, aku kembali menangis saat mengingat kenyataan bahwa aku tengah mengandung janin hasil hubunganku dengan Darman beberapa bulan lalu. Kepada teman-teman aku tidak mau terus-terang tentang kehamilanku. Pada mereka aku hanya mengatakan bahwa aku rindu keluargaku. Setelah itu hari-hari yang kulalui adalah hari-hari yang menakutkan seiring kian membesarnya janin dalam perutku.

Lewat surat kuberitahu Darman bahwa aku hamil dan tidak tahu harus berbuat apa dengan kehamilanku itu. Lewat suratnya juga, Darman tidak bisa memberi solusi dan hanya mengatakan ia juga bingung menghadapi persoalan tersebut. Teman-teman baik di asrama maupun di perusahaan tidak ada yang mengira kalau aku hamil, karena selama ini aku memang suka mengenakan pakaian yang extra size. Pernah aku coba menggugurkan kandungan itu dengan cara makan nanas muda dan beberapa ramuan, namun tidak berhasil. Janin itu tetap hidup dalam kandunganku dan terus membesar dari hari ke hari.

Sampai suatu ketika saat sedang bekerja, aku merasakan sakit yang teramat sangat pada perutku. Mungkin ini yang disebut orang kontraksi. Bergegas aku pergi ke toilet untuk melihat apa yang terjadi. Saat aku membuka celana dan bermaksud jongkok, tiba-tiba sesuatu seperti seonggok daging keluar diiringi dengan darah segar yang terus mengalir dari selangkanganku. Ya ampun, aku melahirkan ! Aku melahirkan seorang bayi laki-laki tanpa didampingi ayahnya dan aku berjuang sendirian menahan rasa sakit yang teramat sangat. Aku menagis panik sambil tetap memegang jabang bayi yang berlumuran darah dan terdiam dengan kedua mata tertutup. Ya Tuhan, bayi yang kulahirkan itu ternyata sudah tak bernyawa lagi ! Aku panik dan takut, sekaligus sedih karena bagaimanapun juga ia adalah anakku sendiri. Darah dagingku sendiri, hasil hubungan cintaku dengan Darman, kekasihku. Namun dalam keadaan panik dan pikiran tak menentu itu, sebelum aku keluar dari toilet, masih sempat aku membersihkan darah yang terpercik di mana-mana. Di tengah kepanikan itu kubawa jabang bayi yang masih merah dengan sweater yang kupakai dan memasukkannya ke dalam kardus bekas. Setelah itu kubuang kardus berisi anakku yang sudah tidak bernyawa itu dengan harapan tidak ada orang yang bisa menemukannya. Aku menangis perih dan teringat bahwa aku telah berbuat dosa besar dalam hidupku.

Rupanya Tuhan memang benar-benar ingin menghukumku. Berawal dari penemuan sesosok mayat bayi dalam kardus dan berdasarkan penelusuran perempuan yang diduga melahirkannya, tidak sukar buat petugas kepolisian menjemput aku di asrama. Mereka berhasil menemukan aku dan mencurigai aku karena selang beberapa hari sebelum penemuan mayat bayi itu, aku memang dibawa teman-temanku ke rumah sakit karena pendarahan yang kualami. Waktu itu mereka berpikir aku mengalami menstruasi yang berlebihan dan kondisi tubuhku yang terus melemah. Dari keterangan dokter, polisi menyimpulkan bahwa kesakitan yang kualami bukan karena menstruasi melainkan karena aku baru saja melahirkan. Aku tidak bisa mengelak karena bukti-bukti medis dan bukti-bukti lain yang memberatkan aku. Aku digelandang ke kantor polisi dengan kondisi yang belum cukup kuat dan sekaligus menguak aib yang selama ini kupendam. Beberapa temanku menangis dan tidak percaya pada kenyataan yang dilihat. Aku sangat tertekan, seolah tidak bisa menghentikan air mataku ketika mereka memasukkan aku ke dalam sel bercampur-baur dengan orang-orang lain yang disangka melakukan tindak pidana kriminal.

Setelah melalui proses yang cukup panjang, akhirnya pengadilan memutuskan aku bersalah dan memvonis aku dengan hukuman tujuh bulan penjara. Beberapa hal dianggap meringankan seperti misalnya aku belum pernah melakukan perbuatan kriminal, usiaku yang masih muda, kooperatif dalam persidangan dan hasil visum menyatakan bahwa bayiku meninggal karena benturan dan diduga jatuh saat aku melahirkan. Meski hanya tujuh bulan dalam penjara, bagiku masa itu adalah masa-masa menakutkan yang harus aku lalui. Tapi aku menerima keputusan itu dan merasa inilah hukuman dari Tuhan yang ditimpakan kepadaku di dunia karena perbuatanku sendiri.

Kini aku telah bebas dan peristiwa yang sudah terjadi beberapa tahun lalu itu telah kukubur dalam-dalam. Aku tidak ingin mengingat-ingat peristiwa menakutkan itu meski terkadang bayangan kelam itu berkelebat dalam pikiranku. Terlebih masih banyak orang yang tetap memandang aku sebagai perempuan hina karena perbuatanku di masa lampau. Namun aku tetap berjanji dalam hati kecilku bahwa aku akan kembali ke jalan yang benar. Aku percaya Tuhan akan mengampuni dosa umat-Nya jika mereka sungguh-sungguh bertobat dan tidak akan melakukannya lagi di kemudian hari. Ya Tuhan ampunilah dosa-dosaku. (Seperti dituturkan Marni kepada Roy Pujianto)R.26

Sumber : Majalah Fakta No. 568




Read More

Istriku Seorang Lesbian

Istriku Seorang Lesbian

Sepulang dari kantor, aku mendapati Ratna dan Erna tidur berduaan dalam posisi berpelukan mesra tanpa busana di kamarku !

Usiaku baru lima tahun ketika mama meninggalkan aku untuk selama-larnanya. Mama meninggal dunia di saat melahirkan adikku, Ratna. Aku sendiri kala itu belum begitu mengerti arti kematian. Yang kuingat, ketika banyak orang menangisi jasad beku mama, aku pun ikut-ikutan menangis. Aku tidak tahu, mengapa tiba-tiba mataku pedas dan ingin sekali menangis seperti orang-orang itu.

Beberapa bulan setelah kematian mama, papa memboyong kami ke Jakarta. Di kota metropolitan itu papa menikah lagi. Selanjutnva, aku diasuh dan dibesarkan oleh ibu tiri kami, Tante Wanda. Semula sikap Tante Wanda kepadaku dan adikku baik-baik saja. Ia bahkan amat mencintai dan menyayangi kami berdua. Tetapi, sikap baik Tante Wanda itu ternyata tidak bertahan lama. Setelah Tante Wanda dikaruniai momongan, sikapnya kepada kami berdua berubah seratus delapan puluh derajat. Tante Wanda tidak lagi sayang kepada kami. Perhatiannya lebih banyak tercurah untuk anak kandungnya sendiri. Bahkan, kekejaman-kekejaman Tante Wanda mulai kami rasakan dari hari ke hari. Tetapi, aku dan Ratna mencoba untuk bertahan.

Sebenamya, aku dan Ratna ingin sekali mengadukan kekejaman Tante Wanda kepada papa. Tetapi setiap kali hal itu hendak kami lakukan, saat itu juga tiba-tiba aku dan Ratna seperti tidak memiliki keberanian. Takut dan khawatir kalau-kalau pengaduan kami justru memancing kemarahan papa.

Rupanya papa bisa merasakan gelagat tidak baik atas hubungan kami dengan Tante Wanda. Hingga suatu malam, aku yang kala itu sudah berumur sepuluh tahun dipanggil papa. Dalam pembicaraan malam itu, papa menginginkan aku dan Ratna tinggal bersama bude (kakak perempuan papa) di Surabaya. "Papa tidak memaksa jika kalian tidak ingin tinggal bersama bude ya nggak apa-apa," ujar papa kepadaku dan Ratna. Aku langsung saja setuju dengan rencana papa itu. Begitu pula dengan Ratna. Kami senang sekali. Saking senangnya, aku dan Ratna seperti tak sabar menunggu hari keberangkatan kami. Yang terbayang olehku, tentu bude akan sangat senang menyambut kehadiran kami. Apalagi bude di Surabaya tinggal sendirian sejak pakde meninggal dunia.

Begitulah, hingga hari yang kami nanti-nantikan itu pun tiba. Papa mengantarkan kami ke Surabaya. Sejak itu aku dan Ratna tinggal bersama bude. Kami memanggil bude dengan sebutan mami. Dan, seperti yang aku duga sebelumnya, kehadiran kami berdua benar-benar sangat membahagiakan mami. Mami tidak lagi merasa sepi dan sendiri.

Dalam asuhan mami, aku dan Ratna terus tumbuh dan berkembang. Kasih sayang kami kepada wanita itu melebihi segala-galanya. Mami sudah kami anggap sebagai orangtua kandung kami sendiri. Ia bukan saja pengganti sosok ibu kandung kami yang telah meninggal dunia, tetapi sekaligus juga berperan sebagai ayah. Dan, semua itu dilakukan mami dengan tulus ikhlas. Sekedar untuk diketahui, mami hidup dari hasil pensiunan almarhum suaminya. Sedang untuk mencukupi segala kebutuhanku dan adikku, papa mengirimi kami setiap bulan. Jumlahnya cukup banyak, bahkan melebihi kebutuhan kami bertiga. Tetapi untuk masalah keuangan, mami lebih mempercayai adikku.

Di mata kami, mami suka sekali berperilaku aneh. la gemar sekali menyalakan lilin dan berlama-lama menatapnya. Sambil memandang nyala api lilin, sesekali ia membakar batang korek api. Piring seng yang digunakan sebagai alas lilin-lilin itu sampai-sampai penuh dengan lelehan lilin dan batang korek api yang sudah berubah menjadi arang. Suatu hari ketika aku sudah duduk di bangku SMA, mami memanggilku. Katanya, aku mirip sekali dengan almarhum opa (ayah mami dan papa). Entah dengan maksud apa, waktu itu ia menasehatiku agar kelak memilih istri yang tepat. Walau hal tersebut belum terpikir olehku, namun untuk menyenangkan hati mami maka aku iyakan saja.

Belakangan kesehatan mami sering terganggu. Bahkan, sering keluar-masuk rumah sakit. Komplikasi penyakit yang dideritanya dari waktu ke waktu makin serius saja. Sejak itulah papa sering menjenguk mami di Surabaya. Maklum, papa adalah satu-satunya saudara mami yang masih ada.

Waktu terus beranjak. Aku sudah bukan lagi anak SMA. Aku sudah menjadi seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Surabaya. Tetapi untuk kesekian kalinya aku harus kehilangan orang yang amat aku cintai. Mami meninggal dunia di saat aku baru duduk di semester satu. Begitu juga adikku, dia sangat sedih dan terpukul dengan kematian Mami Dilla. Dan, sebagai kakaknya, tentu aku harus menghiburnya agar kesedihan adikku tidak berlarut-larut. Setelah kematian mami, siapa sebenamya diriku terungkap. Teryata aku bukanlah anak kandung papa dan wanita yang selama ini aku panggil mama. Aku hanyalah anak pungut dari sebuah panti asuhan. Papa dan mama mengambilku dari sebuah panti asuhan, setelah lama menikah dan tak kunjung dikaruniai momongan. Jadi, aku tidak lebih sebagai pancingan hingga kelahiran Ratna di dunia ini.

Pertama kali mengetahui kenyataan ini, hatiku serasa hancur berkeping. Aku hampir saja putus asa menapaki hidup ini. Aku merasa malu dengan diriku sendiri, setiap kali ingat kelakuan orangtua kandungku yang telah membuangku di sebuah panti asuhan itu. Aku benar-benar sudah tak berarti lagi bagi mereka. Aku tak ubahnya sampah ! Kelahiranku tak pemah dikehendaki oleh mereka.

Melihat keadaanku, Ratna sangat perhatian. la berusaha membangkitkan gairah hidupku. la membesarkan hati dan semangatku. Perhatian Ratna kepadaku sangat besar dan menyentuh. Puncaknya, ia pun berhasil menggagalkanku yang mencoba bunuh diri dengan menelan obat-obatan yang melebihi dosis. Keberhasilan Ratna mengentaskan aku dari lembah keterpurukan itu membuat hatiku lama-lama tertambat pada Ratna. Diam-diam aku jatuh hati pada wanita yang selama ini aku kira sebagai adik kandungku sendiri. Di luar dugaan, Ratna pun mempunyai perasaan yang sama denganku.

Cintaku kepada Ratna ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Sejak itu aku menjalani hidup bersama Ratna layaknya pasangan suami-istri, hingga Ratna pun hamil. Tentu saja kehamilan Ratna cukup merisaukan hatiku. Mengingat Ratna masih sekolah di SMA, semula aku ingin Ratna melakukan aborsi. Tetapi keinginan tersebut ditolak mentah-mentah oleh Ratna. Alasannya, ia tak sampai hati kalau harus "menjagal" darah dagingnya sendiri.

"Aku takut dosa," aku Ratna sambil memohon agar aku mengurungkan rencana aborsi itu. Ratna pun akhirnya harus keluar dari sekolahnya, ketika kandungannya tak mungkin lagi disembunyikan. Dalam waktu yang hampir bersamaan, tiba-tiba kami mendapat kabar kalau papa mendapat kecelakaan dan meninggal dunia. Ratna benar-benar terpukul dan merasa sangat sedih atas kematian papa. Aku pun akhirnya menikah dengan Ratna. Kehidupan rumah tangga kami berjalan biasa-biasa saja.
Tiga orang anak hadir dan menyemarakkan kehidupan rumah tangga kami. Ketiga anak kami, yang pertama dan kedua adalah perempuan, sedang yang terakhir adalah laki-laki. Tetapi kebahagiaanku tak bertahan lama. Suatu ketika, aku mendapat laporan dari pembantuku, Bik Sulami, kalau istriku sering terlihat mesra dengan kawan senamnya, sesama perempuan. Namanya, Erna. Karena pengaduannya itu, Bik Sulami sempat aku marahi. Namun, Bik Sulami tetap bersikukuh dengan pendirian dan keyakinannya.

Benarkah Ratna seorang lesbian? Membayangkan itu, tiba-tiba aku merasa jijik sendiri. Entahlah, mendadak pula aku menggigil ketakutan. Aku berharap, hal itu hanyalah fitnah belaka. Walau begitu, aku harus menanyakan kebenaran kabar buruk itu secara langsung kepada Ratna. Tapi Ratna tak pemah mengakui. Katanya, dia akrab dengan Erna itu cuma sebatas keakraban berteman, tidak lebih dari itu. Aku bisa mempercayai kata-katanya itu.

Namun, lama-lama timbul kecurigaan di hatiku. Kecurigaanku menggeliat setiap kali Erna datang ke rumah dan langsung masuk ke kamar pribadiku. Kedatangannya seolah hendak menjemput istriku, dan selanjutnya diajak pergi entah ke mana. Berangkat dari rasa curiga itu pula suatu hari aku menguntit kepergiannya. Hatiku sedikit lega ketika aku mendapati mereka berada di tempat senam. Tetapi kecurigaanku timbul kembali ketika dari tempat senam Ratna dan Erna pergi bersama ke rumah Erna yang berada di sebuah kawasan elite di Surabaya. Tak kuasa menahan rasa penasaranku, aku pun secara diam-diam mengikuti mereka. Dengan hati berdebar-debar aku pencet bel di rumah Erna, dan seorang pembantu membukakan pintu untukku. Untuk kedua kalinya, ulah lesbi Ratna dan Erna tak terbukti. Kedatanganku hanya bisa menyaksikan mereka sedang nonton televisi. Dan, saat itu juga aku ajak Ratna untuk pulang. Sepanjang perjalanan pulang kami hanya saling bungkam.

Tapi, isu tentang hubungan sejenis antara Ratna dan Erna makin santer. Hasratku tergelitik untuk mencoba lagi menyelidikinya. Dan, untuk kesekian kalinya secara diam-diam aku menguntit kepergian Ratna dan Ema. Kepergian mereka kali ini naik mobil Erna dan langsung menuju sebuah hotel. Di depan pintu kamar hotel yang mereka sewa, hatiku cemas. Rasanya maju-mundur untuk mengetuk pintunya. Tetapi dorongan hatiku lebih kuat dari segala-galanya. Maka, ketika aku merasa waktunya sudah tepat, kuketuk pintu itu. Pintu pun terbuka, dan apa yang menjadi dugaanku lagi-lagi tak terbukti adanya. Aku lihat Ratna maupun Erna masih berpakaian lengkap dan tak aku dapati tanda-tanda yang mengarah pada hal-hal yang patut dicurigai. Kali ini kedatanganku justru menyulut kemarahan Ratna. Habis-habisan aku dimakinya di hadapan Erna. Walau begitu aku tak peduli dan langsung mengajak Ratna pulang. Tetapi Ratna tak mau dan memilih akan pulang sendiri. Aku pun mengalah dan ketika Ratna sampai di rumah waktu sudah larut malam.

Esok paginya aku tak mendapati Ratna berada di rumah. Aku sempat berpikir, mungkin Ratna minggat. Anak-anak pun bertanya kepadaku, mengapa tiba-tiba mamanya pergi tanpa pamit ? Aku hanya bisa berbohong. Aku katakan kepada anak-anak kalau mama mereka sebentar lagi akan pulang. Sejak anak-anak sering menanyakan mamanya, aku berusaha mati-matian untuk menemukan Ratna. Hampir di setiap tempat yang mungkin disinggahi Ratna aku sisir dan selidiki. Setelah hampir seminggu menghilang, tiba-tiba Ratna muncul. Kepadanya aku mengaku bersalah. Nyatanya, sejak saat itu rumah tangga kami berangsur-angsur pulih seperti sedia kala. Tentu saja hal tersebut merupakan kebahagiaanku dan anak-anak.

Namun di saat pikiran burukku akan ulah Ratna dan Erna luntur, mendadak suatu hari peristiwa itu nyata terjadi di depan mata kepadaku sendiri. Sepulang dari kantor, aku mendapati Ratna dan Erna tidur berduaan dalam posisi berpelukan mesra tanpa busana di kamarku. Aku berharap Ratna akan minta maaf kepadaku setelah tertangkap basah. Tapi, harapanku tak pernah menjadi kenyataan. Sebaliknya, Ratna malah menantangku untuk menceraikannya. Namun aku tak ingin menuruti emosiku. Aku mencoba untuk bertahan dan bersabar. Aku berharap, Ratna masih bisa disembuhkan dari kelainan seksnya itu. Demi anak-anakku, aku akan terus berusaha. Apa pun akan aku lakukan demi mereka. Tetapi Ratna tetap pada pendiriannya. la hanya ingin cerai dari aku, dan hidup bersama anak-anak kami. Aku tak mungkin mengabulkan keinginan Ratna. ltulah sebabnya, aku tetap menggantungnya.

Sebenarnya aku kasihan melihatnya. Sebab Ratna tak mungkin lagi menikah dengan statusnya yang mengambang seperti itu. Tetapi aku juga tak ingin berpisah dengan anak-anakku. Akibatnya, rumah tanggaku bagai sebuah neraka. Anak-anakku pun menjadi korban egoisme orangtuanya. Ya Tuhan berikanlah petunjuk dan hidayah-Mu kepada istriku, Ratna. (Seperti diceritakan Robby kepada Roy Pujianto)R.26

Sumber : Majalah Fakta No. 566




Read More

Cinta Liar di Awal Tiga Puluh

Cinta Liar di Awal Tiga Puluh
Tuntutannya semakin tidak karuan. Ia minta aku main oral.
Bahkan, yang lebih parah, ia selalu saja memaksa main AC-DC (depan-belakang).

Panggil saja aku dengan Yati. Aku belum genap 35 tahun. Perjalanan rumah tanggaku dengan suamiku, Raditya, memang penuh onak dan duri, bahkan kini sampai membuahkan rasa perih. Aku merasa tidak hanya di ujung tanduk, tetapi sudah diseruduk oleh tanduk itu. Bersuamikan Raditya, aku seakan sebagai orang paling sial di dunia. Kini yang tersisa dari buku hidupku adalah lembaran penuh dengan tinta hitam dan merah, karena aku pernah menulisinya dengan rasa ingkar dan kebencian. Aku berharap bisa kembali menumbuhkan bunga di taman hatiku, meski dalam kesendirian.

Memang, aku juga pernah merasa sebagai orang yang paling beruntung di jagat raya, ketika aku dipersunting Adit, begitu biasanya aku memanggilnya. Bagaimana tidak, aku menutup masa lajangku ketika usiaku sudah menapak 32 tahun. Cukup lama aku menyandang predikat sebagai perawan tua. Meski demikian, aku mampu menyudahi masa lajangku dengan rasa bangga, baik itu pada teman maupun keluarga. Usia Adit jauh lebih muda dariku. Bisa dikatakan aku mendapatkan "daun muda", meski tidak bisa dikatakan brondong. Usianya saat itu 25 tahun. Jadi selisih kami 8 tahun. Namun, aku merasa saat itu Adit sudah cukup matang, sebagaimana lelaki di usianya. Yang membuatku sedikit bisa menepuk dada adalah ia memiliki kelebihan lain selain usianya yang lebih muda dariku, yaitu supel, sopan, tutur katanya halus, dan tentu saja tampan dan atletis.

Ketika kami bersanding di pelaminan, sungguh kami bisa diibaratkan sebagai Dewa Kamajaya dan Dewi Ratih. Meskipun usiaku sudah tak muda, di atas pelaminan, aku disulap menjadi belia. Banyak orang memuji kami sebagai pasangan serasi. Namun, kebanggaanku di pelaminan ternyata harus lekas kandas. Benih curiga dan konflik pun mulai terbuka. Itu sudah diawali mulai malam pertama. Sejak awal aku memang kurang terbuka pada Adit. Terutama soal riwayat seksualku. Sebenamya aku menikah dengan Adit dalam kondisi sudah tidak perawan. Aku sudah menyerahkannya pada seorang laki-laki yang aku percaya, tetapi ternyata dengan sangat tega mengkhianatiku.

Sejarah pacaranku memang panjang dan penuh dengan liku. Aku pacaran lima kali. Empat kali pacaran pertama aku lalui dengan pacaran yang wajar. Namun, karena para laki-lakiku maunya hanya pacaran karena masih ingusan, akhirnya aku putuskan mereka. Saat itu usiaku belum sampai 26 tahun. Pacaran kelima, aku jalin dengan Pras. Aku bertekad langsung ke jenjang serius. Sehingga hubungan kami pun menjurus ke hal-hal yang terlalu "serius". Ketika Pras mengajakku hubungan intim, aku pun melayaninya karena aku merasa bahwa kami akan segera menjadi suami-istri. Namun, ternyata harapanku tak sesuai kenyataan. Setelah berkali-kali berhubungan intim, bahkan aku sempat aborsi karena aku kedapatan hamil, ia pergi meninggalkanku. Padahal kami sudah berhubungan 2 tahun lebih. Kepergiannya menyisakan lobang luka di hatiku, yang sakitnya minta ampun. Aku trauma. Pada akhirnya aku menutup diri dari laki-laki.

Setelah hampir 4 tahun aku kunci hatiku, akhirnya aku pun membukakannya lagi pada seorang laki-laki yang dikenalkan oleh keluarga. Ia adalah Raditya. Sejak pandangan pertama, aku langsung cocok dengannya. Ia memenuhi kriteriaku. Tampang dan gayanya meluluhkan baja yang selama ini menjadi benteng hatiku. Oleh karena itu, aku ingin segera meresmikan hubungan, meski sebenarnya perkenalan kami belum sampai dua bulan. Aku yang menanggung semua keperluan resepsi karena secara ekonomi aku jauh lebih mapan dari Adit.

O iya, aku memang tak bercerita secara terbuka tentang kondisi tidak perawanku, karena aku sangat takut kehilangan dia. Dan, akhirnya itu adatah bumerang bagiku. Begitu usai malam pertama, ia langsung bisa menyimpulkan dengan tepat bahwa aku sudah tidak perawan. Aku langsung tergagap. Aku teringat ucapan seorang teman kantor, bila ada laki-laki yang bisa membedakan perawan dan tidak perawan pada saat intim, itu pertanda bahwa laki-laki itu adalah petualang seks, atau setidaknya pernah melakukan hubungan seks. Malam itu, aku tak langsung menyimpulkan predikat itu pada suamiku, meski setelah itu ternyata terbukti. Yah, Adit ternyata seorang petualang seks. Jika aku tidak perawan, Adit ternyata lebih parah. Rekornya dalam meniduri wanita luar biasa.

Malam itu, kami buka-bukaan. Aku bercerita tentang riwayat seksualku. la tampak paham, tetapi ternyata ia menyimpan dendam. la pun bercerita tentang riwayat seksnya yang membuatku hanya bisa melongo. Tak terbayangkan !

Pada hari-hari berikutnya, ia seperti berada di atas angin. Ia semakin tak menunjukkan rasa kasih dan hormatnya padaku. Ia mulai menunjukkan karakter aslinya. Terlebih ia semakin menuntut yang bukan-bukan. Itu tidak hanya dalam masalah seksual tetapi juga dalam masalah lainnya. Jika aku abaikan, aku dianggapnya egois. Dan, ia menuduhku bahwa orang yang lama hidup sendiri tanpa pasangan itu biasanya terjangkit egois. Aku tentu saja tak setuju. Dan, aku paling tidak suka jika ia berkata demikian. Aku kira jika memang tuntutannya sesuai dengan nalar dan karena cinta, tentu saja aku tak menolaknya. Tetapi tuntutannya lebih karena ia ingin mempermainkan aku. Setidaknya begitulah perasaanku.

Dalam hal seks, tuntutannya semakin tidak karuan. Ia minta aku main oral, padahal aku termasuk orang yang paling jijik soal itu. Bahkan, yang lebih parah, ia selalu saja memaksa main AC-DC (depan-belakang). Aku terpaksa menurutinya karena ingin dia tidak kecewa, meski setelah ngeseks, aku merasa tubuhku seperti habis disiksa. Aku tetap bertahan hidup dengannya dalam tahun pertama perkawinanku karena semata-mata aku memandang keluarga. Aku tak ingin menodai kebahagiaan mereka. Mereka sudah cukup tersiksa selama ini dengan posisiku. Tentu saja aku tak ingin merusak kelegaan mereka yang baru saja usai.

Memasuki tahun kedua, aku sudah tak tahan lagi. Tuntutannya semakin aneh. la minta dibelikan rumah sendiri. Dalam soal seks pun demikian. Aku diminta seperti pemain BF (blue film/film porno) yang akrobatik. Tuntutan pertama bisa ditunda dengan menggantikannya dengan barang lain, tetapi soal seks aku jadi jungkir-balik. Tetapi aku harus tetap munafik dengan memelihara keutuhan rumah tangga. Aku pun menemukan sebuah pemecahan yang sebenarnya bukan mengatasi masalah, tetapi memecahkan masalah dengan membuat masalah baru. Setiap kali ia ingin intim denganku, aku katakan padanya, agar dia ”jajan” saja di luar sehingga dia bisa sesukanya untuk memperlakukan wanita di atas ranjang. Aku juga katakan seharusnya ia bisa membedakan wanita di ranjang itu sebagai istri atau sebagai obyek seksualnya saja. Toh ia santai saja dan mengatakan setuju, tetapi dengan syarat aku yang membiayainya. Aku pun menyanggupinya, meski aku tahu itu adalah tindakan bodoh. Pada akhirnya, minimal seminggu sekali, ia ke prostitusi.

Hari-hariku pun penuh dengan cerita kebohongan. Sungguh, dalam batinku, aku menjerit sekeras-kerasnya. Kebahagiaan yang aku angankan pada awal menikah, begitu cepat menguap. Belum genap tahun ketiga, aku pun menuntut cerai padanya. Itu dipicu oleh sebuah peristiwa yang membuatku tertampar. Ia benar-benar sudah kelewatan. Pada suatu malam, ia membawa seorang pelacur ke rumah. Pekerja seks itu seorang banci. Kebetulan saat itu di rumah sedang ada kunjungan keluarga. Aku pun marah besar. Untunglah aku bisa menguasai diri.

Pengalaman hidupku telah mengajariku. Sejak itu, aku merasa harus kembali hidup sendiri. Akhirnya, aku pun melayangkan gugatan cerai. Yang lebih tak tahu malu, ia menuntut harta gono-gini, padahal saat ia mempersuntingku, ia hanya membawa "kelamin" saja. Sungguh, selama ini aku tak menyangka bahwa ada orang macam Raditya di dunia ini, dan ternyata itu ada bahkan dia menjadi suamiku. Ia tidak hanya memeloroti harta dan jiwaku, tetapi juga monster yang mencabik-cabik hidupku.

Jika aku ingat, aku merasa jadi orang yang paling terkutuk. Pada saat aku sendiri dan merenungi jalan hidupku, aku sempat juga introspeksi, sungguhkah segala yang menimpaku adalah karma dari masa laluku, atau jangan-jangan karena ketidakbecusanku dalam memilih laki-laki yang baik sebagai pendamping hidupku, atau bahkan kedua-duanya ? Yah, bagaimanapun juga aku memang yang keliru. Aku belum mengenal Raditya dengan sepenuhnya. Aku pun tidak terbuka padanya. Aku berharap masih ada hikmah di baliknya dan pada akhirnya aku bisa menemukan kebahagiaan, meski harus kutempuh dengan hidup sendiri. Jika memang itu karma, semoga itu adalah teguran setimpal bagiku dan aku berharap masih bisa melalui sisa hidupku ini dengan hati lapang tanpa dendam. Semoga doaku terkabul. Amiin. (Seperti dikisahkan Yati pada Roy Pujianto)R.26

Sumber : Majalah Fakta No. 564
Read More

Malam Jahanam

Malam Jahanam
Entah setan mana yang merasuki jiwanya, hingga ia memaksa aku untuk melayani nafsu birahinya.  

Tak banyak yang bisa aku perbuat, kecuali hanya mendengarkan kawan-kawan SMA-ku bicara tentang perguruan tinggi yang akan dimasukinya.Sebenarnya aku ingin sekali seperti mereka. Tamat SMA masuk sebuah perguruan tinggi favorit. Otakku, aku rasa cukup mampu untuk itu. Tetapi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi otak saja tidak cukup tanpa dukungan dana yang memadai. Aku meski harus memupus impianku. Untuk bisa menamatkan SMA saja, perjuangan orangtuaku sudah habis-habisan. lbaratnya, kepala digunakan untuk kaki, dan kaki digunakan sebagai kepala. Jungkir balik, hutang sana hutang sini. Aku harus tahu diri, kalau aku bukan terlahir dari keluarga berada.

Aku pun mencoba menghibur diri, saat kawan-kawanku mengatakan kalau ingin sukses harus jadi sarjana terlebih dahulu. Aku menyangkal pendapat itu. Kenyataannya, banyak orang sukses tanpa harus menjadi sarjana terlebih dahulu. Bahkan, tidak sedikit yang hanya tamatan SD menjadi orang sukses dan hidupnya bergelimang harta. Jadi jangan salah sangka jika aku berpendapat demikian. Pendidikan tinggi, menurutku memang perlu. Tetapi hidup sukses bukan semata-mata ditentukan oleh gelar kesarjanaan seseorang. Ah, memang aku harus pintar-pintar menghibur diri agar keinginan yang tidak kesampaian tidak memicu munculnya pemberontakan diri yang tidak nalar. Barangkali, aku memang harus bisa menerima kenyataan seperti apa adanya.

Karena itu, setamat SMA aku mencoba mencari pekerjaan. Aku tinggalkan kampung halamanku, Wonogiri, Jawa Tengah. Aku ingin mengadu nasib ke Surabaya, Jawa Timur. Orangtuaku melepas kepergianku dengan berat hati. Mungkin karena aku ini seorang perempuan, dan baru kali ini bepergian jauh. Apalagi, kepergianku kali ini untuk mengadu nasib, sehingga tidak mungkin balik ke kampung halaman dalam waktu yang singkat.

Meski baru pertama kali menjejakkan kaki di Surabaya, tetapi aku tidak perlu bingung. Sebab, di kota metropolitan itu ada kakakku, sebut saja Mbak Nungky. Dia sudah berkeluarga. Kedatanganku yang tak pernah terduga-duga itu merupakan kejutan tersendiri buat Mbak Nungky sekeluarga. Kedatanganku pun mendapat sambutan hangat. Aku harus bersyukur dan bahagia sekali. Aku utarakan maksud kedatanganku ke Surabaya. Aku ingin mengadu nasib, meski hanya dengan bekal ijazah SMA. Mbak Nungky mendukungku, dan menyemangatiku.

"Memang Kanti, susah sih kalau hanya tamatan SMA. Itulah sebabnya, kamu harus kursus-kursus dulu, sebelum mencari pekerjaan," saran Mbak Nungky kepadaku. Aku maklum. Mbak Nungky benar, tetapi bagaimana dengan biaya untuk kursus-kursusku itu ? Kepada Mbak Nungky, aku pun mengatakan kalau aku mau bekerja apa saja, setelah berpenghasilan baru mencari kursusan. Ya, hanya dengan begitu aku tidak merepotkan Mbak Nungky. Tetapi rupanya Mbak Nungky tidak sependapat denganku. Aku malah tetap dimintanya kursus komputer, Bahasa Mandarin dan Bahasa Inggris, sebelum mencari pekerjaan. Dan semua itu atas biaya Mbak Nungky. Sebenarnya, aku merasa tidak enak dengan kebaikan Mbak Nungky yang aku rasa tulus itu.

Hari-hari pertama hidup di Surabaya, perasaanku penuh keterasingan. Kendati begitu, aku tak pernah surut dari keinginan semula, mengadu nasib dan menyusun masa depan. Aku yakin, perasaan ini hanya akan berlangsung sementara saja. Ya, sampai aku bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru. Dan, apa yang telah menjadi keyakinan itu terus aku pelihara. Suatu ketika, pembantu rumah tangga Mbak Nungky pamit pulang. Mbak Nungky dan suaminya, Mas Prasetyo, tidak berhasil mencegah kepergiannya. Kasihan aku melihat Mbak Nungky yang waktu itu sedang hamil tua. Apa boleh buat, sejak kepergian pernbantu rumah tangganya, segala pekerjaan rumah yang semula menjadi tanggung jawab pembantu, aku kerjakan. Untungnya hal tersebut tidak berlangsung lama, karena suatu hari seorang tetangga mbakku yang baru pulang dari Lamongan, Jawa Timur, ini membawa seorang wanita desa. Wanita itu ditawarkannya kepada mbakku untuk dijadikan pembantu. Mbak Nungky langsung setuju, dan sejak itulah aku diminta mengajari Emak, demikian aku menyebut pembantu Mbak Nungky yang baru ini, tentang apa-apa yang mesti dikerjakan.

Beberapa waktu kemudian, Mbak Nungky masuk rumah sakit untuk menghadapi proses persalinannya. Untuk sementara dua orang anaknya dipasrahkan kepadaku. Aku diminta merawat dan mengasuhnya baik-baik. Tanpa diminta pun, amanat itu mesti akan aku laksanakan. Sebab, bagaimanapun keponakan-keponakanku tak ubahnya anakku sendiri. Sejak masuk rumah sakit, tugas malamku menidurkan dan mengeloni kedua anak kakakku itu. Sementara melaksanakan tugas itu, aku berperang melawan perasaan harap-harap cemas atas persalinan Mbak Nungky. Aku selalu berdoa untuk kelancaran proses persalinannya. Aku terhadap, selamat untuk yang melahirkan dan selamat juga untuk yang dilahirkan.

Malam kedua Mbak Nungky masuk rumah sakit, peristiwa yang sama sekali tak pernah aku impikan terjadi tanpa aku bisa mencegahnya. Ketika aku sedang meninabobokkan kedua keponakanku, tiba-tiba kakak iparku menerobos masuk ke kamar kami. Semula, aku tak punya prasangka atau pikiran buruk apa pun. Aku pikir Mas Pras hanya ingin bermanja-manja dengan kedua anaknya. Tetapi apa yang terjadi, sungguh di luar dugaanku. Entah setan mana yang merasuki jiwanya, hingga ia memaksa aku untuk melayani nafsu birahinya. Aku berusaha habis-habisan untuk bertahan dan menolak ajakan tak terpuji itu. Tercium aroma alkohol dari mulut Mas Pras. Malam jahanam itu pun menjadi titik awal hancurnya hidupku. Aku tak bisa bercerita banyak, bagaimana aku mempertahankan keperawananku terhadap kakak iparku. Entah bagaimana, tiba-tiba aku merasa berada pada sebuah titik ketidakberdayaan yang menggiriskan.

Di bawah ancaman senjata tajam, aku diperkosa Mas Pras saat kedua keponakanku tidur pulas menggapai mimpi indahnya. Aku hanya bisa menangis, dan meratapi nasibku melihat noktah merah yang terpercik di seprei merah jambu itu. Hatiku serasa hancur berkeping-keping, dan pandanganku mendadak berkunang-kunang. Aku berharap, peristiwa di malam jahanam itu tidak akan pernah terulang lagi.

Tetapi, harapan itu tinggal hanya harapan. Sungguh betapa susahnya menerka ke mana perjalanan hidup akan membawaku. Betapa tidak, setelah peristiwa di malam jahanam itu, kelakuan kakak iparku semakin bejat saja. Tragisnya, aku semakin tak berdaya dan tak pernah menemukan jalan keluar. Mungkin ini kesalahanku sendiri, mengapa aku tidak berani nekad, misalnya balik ke Wonogiri saja ?

Sementara aku terus terlibat dalam permainan tak terpuji, aku menjalin hubungan dengan seorang lelaki sebaya, sebut saja Mas Yudha, seorang mahasiswa pada sebuah PTS di Surabaya. Hubunganku semakin hari semakin intim saja.Terus terang, di antara kami sama-sama saling mencintai. Satu ketika, tanpa aku duga-duga pula Mas Yudha minta bukti cintaku kepadanya. Semula, aku bingung. Aku tidak mengerti arah pembicaraan Mas Yudha. Karenanya, dengan polos kutanyakan kepadanya,"Apa yang bisa membuatmu percaya, kalau aku memang benar-benar mencintaimu, Mas Yudha ?" Mas Yudha membisikkan sesuatu ke telingaku. Aku baru paham, maksud Mas Yudha minta bukti cintaku kepadanya. Karena aku memang benar-benar mencintainya, maka tanpa pikir panjang langsung saja aku kabulkan keinginan Mas Yudha. Tetapi apa yang terjadi setelah kejadian itu berlangsung? "Kamu sudah tidak perawan lagi, ya?" demikian reaksi Mas Yudha ketika pertarna kali merasakan kehangatan tubuhku.

Mendapat pertanyaan begitu, aku bungkam seribu bahasa. Sungguh, aku tidal pernah menyangka kalau Mas Yudha akan mempersoalkan itu. Haruskah aku katakan yang sebenarnya bahwa kakak iparku-lah yang telah merampas mahkotaku ? Percayakah Mas Yudha akan pengakuanku ini ? Aku gelisah bukan main memikirkan hal itu. Waktu terus bergulir. Hubunganku dengan Mas Yudha terus berjalan. Aku agak sedikit lega, karena Mas Yudha tak lagi menyinggung soal kesucianku. Tetapi sejak itu, ia sering minta aku layani. Hubungan kami pun lambat laun lazimnya pasangan suami-istri. Setiap saat Mas Yudha ingin kehangatan tubuhku, aku pun berusaha untuk tidak mengecewakannya.

Singkat cerita, aku pun hamil. Tetapi aku tak tahu siapa yang lebih pantas disebut bapak oleh janin yang mengeram dalam rahimku ini. Sebab, selain dengan Mas Yudha, Mas Pras sering juga memaksaku. Sejauh itu, Mbak Nungky tidak tahu-menahu soal kelakuan bejad suaminya kepadaku. Aku sendiri juga tidak mungkin memberitahukannya kepada Mbak Nungky. Sementara kandunganku semakin berumur. Ingin rasanya aku menempuh jalan pintas, menggugurkan kandunganku. Tetapi, persoalannya, untuk sebuah jalan pintas itu butuh uang dan kenyataannya aku tak pernah mempunyainya. Akhirnya aku katakan kepada Mas Pras, dan jawaban yang aku peroleh, aku disuruh segera menikah dengan Mas Yudha.

Sekedar untuk diketahui, hubunganku dengan Mas Yudha juga sepengetahuan dirinya. Tetapi ketika aku minta pertanggungjawaban Mas Yudha, aku justru diminta menggugurkan si janin. Soal biaya, Mas Yudha yang akan menanggungnya. Karena tak melihat jalan keluar lain selain aborsi, maka dengan diantar Mas Yudha, aku berangkat ke daerah Malang Selatan untuk aborsi. Usaha aborsi gagal total, meskipun bermacam jampi-jampi dan ramuan-ramuan tradisional tandas aku tenggak. Apa boleh buat, meski terpaksa akhirnya Mas Yudha menikahiku juga.

Sekitar 6 bulan setelah melangsungkan pernikahan dengan Mas Yudha, aku melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Astaga, di luar dugaan, anak yang aku lahirkan itu menyandang banyak cacat fisik. Mulutnya sumbing, tidak mempunyai empat jari kecuali ibu jari saja, tidak memiliki jari kelingking dan jari manis sebelah kanan, serta telinga kirinya carat, seperti terlipat ke depan. Pertama kali melihat kondisi bayi kami yang demikian, aku dan Mas Yudha menangis sejadi-jadinya. Dunia serasa kiamat. Aku tidak tahu, apa yang mesti aku perbuat. Demikian juga dengan Mas Yudha. Haruskah aku membuang anakku di tempat sampah ? Oh Tuhan, maafkan hambaMu ini, jika sampai mempunyai pikiran yang demikian tidak terpuji.

Apa pun dan bagaimanapun keadaannya, aku akhirnya bertekad untuk merawat dan membesarkan bayiku yang cacat itu. Tetapi untuk mencegah agar hati kami tidak makin terluka oleh olok-olok dan nyinyir mulut para tetangga, maka bayiku aku besarkan dalam "persembunyian" yang sedemikian rupa ! Anakku senantiasa dalam keadaan terbungkus selimut rapat-rapat. Sebab, hanya dengan cara ini sejumlah kecacatannya tidak sampai diketahui orang lain.

Seiring dengan berlalunya hari, anakku tumbuh berkembang sebagai anak perempuan yang cantik, lucu, pintar serta menggemaskan meskipun cacat. Sementara anak kami makin tumbuh dan berkembang, Mas Yudha menjalin hubungan dengan wanita lain. Jika semula perselingkuhannya dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, lambat-laun dilakukan secara terang-terangan. Mas Yudha seolah sengaja memancing emosiku, dan berharap aku minta cerai. Memang pada akhirnya aku minta cerai pada Mas Yudha. Tetapi ini semata-mata aku lakukan untuk menjaga hati dan perasaan anak kami yang cacat itu. Sebab, Mas Yudha sering melampiaskan kekesalan hatinya pada anak kami yang malang ini. Rupanya Mas Yudha belum bisa menerima kenyataan seperti apa adanya, hingga ia sering melampiaskan kekecewaannya pada anak kandungnya sendiri.

Ya Tuhan ampuni dosa-dosa hambaMu yang hina ini dan berikanlah petunjukMu agar aku bersama anakku dapat menjalani kehidupan di dunia yang fana ini atas ridhoMu, Amiin. (Seperti dituturkan Kinanti pada Roy Pujianto)R.26

Sumber : Majalah Fakta No. 563
Read More

Luka di Atas Luka

Luka di Atas Luka
Begitu kasarnya, rok serta celana dalamku sampai robek. Secepat kilat pula laki-laki jahanam itu merenggut mahkotaku.

Aku pulang dari rantau setelah bertahun-tahun di negeri orang. Oh ... Malaysia..... lagu itu terasa indah di telingaku. Dan, aku sangat suka menyanyikannya. Terlebih setelah kumiliki kenangan di Malaysia, lagu itu terasa hanya milikku seorang. Ya, aku memang memiliki kenangan indah di negeri jiran tersebut. Kenangan yang tak terlupakan. Namun kenangan indah itu seolah terampas oleh kenangan pahit yang membuatku trauma. Empat tahun aku bekerja di Malaysia. Tentu bukan waktu yang singkat. Di sana pula kurajut tali asmara dengan seorang laki-laki asal Sumedang, Jawa Barat. Disanalah kami bertemu. Di sana pula kami merasa senasib, seperjuangan dan seperjalanan. Kisahku menjadi kisahnya, kisah dia menjadi kisahku pula. Itulah awal kebersamaan kami. Kala itu dia, kekasih yang biasa kupanggil dengan panggilan Kang Surya, bekerja sebagai kuli bangunan. Sementara aku, bekerja sebagai PRT di sebuah keluarga besar. Kami berdua sama-sama berada di Telang. Oleh karena itu kami memiliki waktu cukup untuk bertemu. Bahkan aku juga memiliki kesempatan (terkadang) menyisihkan sedikit makananku untuk Kang Surya.

Di keluarga Ping Tjwan tempatku bekerja aku bukan satu-satunya PRT. Di sana ada dua orang PRT lain, tetapi mereka laki-laki semua, dan keduanya berasal dari Sidoarjo, Jawa Timur. Keluarga Ping Tjwan memiliki usaha konveksi khusus pakaian dalam wanita. Jika boleh kusebut, usaha mereka semacam home industry, yang tempatnya di samping rumah, di bagian belakang. Kami para PRT tidak diijinkan ke tempat konveksi. Demikian pula para buruh di tempat konveksi, tidak diijinkan masuk ke dalam rumah tinggal keluarga Ping, kecuali orang-orang tertentu. Kami masing-masing telah memiliki bagian dan pekerjaan yang berbeda. Tetapi bukan itu yang aku ceritakan.Yang jelas, aku merasa betah bekerja di keluarga Ping. Namun terus terang, terkadang aku tidak cocok dengan masakannya. Perlu kujelaskan, keluarga Ping memiliki tukang masak, yang setiap hari datang pergi dan pulang setelah usai memasak. Karena masakan mereka masakan yang terkadang menggunakan lemak babi, maka aku masak sendiri. Artinya, aku masak untuk tiga orang, yakni untukku dan untuk dua temanku yang lain. Sekali lagi, hal itu sama sekali bukan masalah. Segalanya berjalan sebagaimana mestinya. Dan, aku menikmati kehidupanku di dalam keluarga Ping.

Sebagai PRT, aku mendapat libur satu minggu sekall, yakni setiap hari Minggu. Nah, hari libur itulah yang selalu kumanfaatkan untuk bertemu dengan Kang Surya. Terkadang kami sekedar jalan-jalan di plasa, sekedar makan di rumah makan Padang, belanja di pasar atau hanya duduk-duduk di taman pojok kota. Meski hubungan kami sangat biasa, tetapi aku menikmati hubungan tersebut. Apalagi Kang Surya mengaku masih jejaka, ah.....berbunga-bunga hatiku. Ini artinya, aku tak salah pilih. Sebab aku juga masih lajang. Kami berencana akan segera menikah jika kontrak kerja kami masing-masing telah usai. Sebuah rencana yang indah, seindah lagu "Semalam Di Malaysia". Dan, rencana itu telah kusampaikan pula pada orangtuaku melalui surat. Bahkan foto kami berdua (aku dan Kang Surya) sudah kukirim pula ke kampung halamanku. Itulah rencana.

Sampai suatu hari Kang Surya mengalami kecelakaan di tempat kerjanya. Ia terjatuh saat membawa Theodolite dan tulang keringnya (kanan) tertusuk besi hingga tembus ke tulang betis. Meski tidak sampai pingsan tetapi Kang Surya harus menjalani rawat inap di RS. Bahkan harus dilakukan operasi untuk mengeluarkan besi yang menancap tersebut. Aku sedih, sangat sedih ! Aku merasa kehilangan Kang Surya. Apalagi aku tidak memiliki banyak waktu untuk menunggunya di RS. Apa boleh buat. Aku terpaksa hanya sebatas menjenguknya di RS. Dan, itu semakin membuat hatiku remuk. Dapat kubayangkan betapa Kang Surya merasa kesepian. Di tanah rantau, dia tidak memiliki sanak-saudara masih harus menderita pula. Terlebih di rantau, Kang Surya hanya sebagai TKI ilegaI. Untung saja majikan Kang Surya mau bertanggung jawab. Semua biaya perawatan Kang Surya ditanggungnya.

Sementara Kang Surya meniti hari-hari sepi di RS, aku mengalami nasib yang lebih pahit. Suatu sore menjelang Maghrib, salah seorang karyawan konveksi keluarga Ping datang ke rumah tempatku bekeja. Ia mengantar beberapa gulung kain yang akan dimasukkan ke gudang dengan menggunakan gerobak dorong. Oleh karena kami sudah terbiasa bertemu, maka basa-basi pun kami lakukan. Kami bertegur sapa seperti biasanya. Lalu dengan logat Malaysianya yang patah-patah, laki-laki asal Pakistan itu menanyakan keberadaan majikanku yang perempuan. Tentu saja kujawab apa adanya bahwa yang dia cari sedang tidak berada di rumah. Senyum lebar terkembang di wajah laki-laki yang mengaku berasal dari Pakistan tersebut. Matanya nanar dan nyalang menyambar wajahku.

Dalam sekejap aku merasa tubuhnya yang hitam tinggi itu sudah mendorongku ke dalam gudang yang sepi. Dengan cepat pula tangannya yang kuat membekap mulutku. Aku sadar bahwa aku sedang dalam keadaan darurat. Aku sadar bahwa aku sedang dalam cengkeraman laki-laki "lapar". Tetapi tenagaku tak berarti apa-apa. Perlawananku sekuat tenaga, seolah habis dan bagai membuang energi cuma-cuma. Laki-laki itu benar-benar kasar ! Begitu kasarnya, rok serta celana dalamku sampai robek. Bahkan dengan sangat cepat celana dalamku tertanggal dari tempatnya. Secepat kilat pula laki-laki jahanam tersebut merenggut  mahkota keperawananku.

Dan, ketika dia lunglai dalam kepuasannya, dia pun lengah. Kesempatan tersebut kugunakan untuk menjerit sekuat tenaga. Dia seperti tersadar dari perbuatan bejadnya setelah aku menjerit. Laki-laki itu dengan cepat membekap mulutku lagi. Tapi terlambat. Suaraku telanjur keluar menembus dinding gudang. Beberapa saat kemudian pintu gudang dijebol seseorang dari arah luar. Laki-laki yang memperkosaku itu pun bergegas membenahi diri lalu kabur setelah sempat beradu jotos dengan dengan laki-laki lain yang baru masuk ke gudang. Aku menangis. Sementara gudang semakin gelap, karena lampunya memang tidak dinyalakan. Kusesali musibah yang baru saja terjadi. Ya, aku baru saja diperkosa. Aku butuh pertolongan. Maka aku pun lega ketika ada laki-laki lain datang sehingga si pemerkosaku lari tunggang-langgang dan tak pernah kembali lagi. Kabar yang kuterima belakangan, laki-laki yang telah memperkosaku itu pulang ke negaranya, Pakistan.

Akan halnya aku yang masih terpuruk dalam kesedihan dan keterkejutan luar biasa di dalam gudang yang gelap, berharap pertolongan datang dengan segera. Tapi aku bagai terayun dalam khayal sesaat. Sebab laki-laki lain yang baru saja masuk ke gudang dan berhasil menghalau si pemerkosaku tadi tak lebih baik dari pemerkosa pertamaku. Mulanya, laki-laki kedua itu memang sempat memelukku sambil berbisik menenangkanku. Kata-katanya tenang dan teduh. Bahkan ia sempat mengatakan akan mengantarku ke dokter. Ah... hatiku lega. Perasaanku sedikit tenang meski aku tak bisa menatap wajah laki-laki kedua tersebut. Gelap di dalam gudang semakin pekat. Bahkan udaranya terasa semakin gerah. Laki-laki itu masih berbisik dan berkata-kata dengan sangat pelan. Tetapi aku tak pernah mengenal suaranya. Dan, aku tak peduli dia siapa. Aku tak peduli meski dia seorang asing yang benar-benar asing. Bagaimana tidak asing ? Menangkap bayangan pun aku tak mampu. Dan, aku menurut saja ketika dia membimbingku berdiri. Oh ... aku nyaris tak dapat berdiri. Pangkal pahaku sakit sekali dan seperti diganjal batu kali sebesar bakul nasi. Pinggangku juga bahkan sangat sakit sekali. Tetapi aku mencoba melangkah mengikuti bimbingan laki-laki penolongku tersebut.

Dalam sesaat, dalam sekejap mata dan semua terasa sekonyong-konyong, aku bagai dibanting di atas tumpukan kain. Aku tak sempat berpikir. Berteriak pun tak sempat, serangan berikutnya sudah menyerangku dengan telak. Laki-laki penolongku itu membekap mulutku, lalu menyumpal mulutku dengan kain. Meski begitu, aku masih bisa bergerak kendati sangat terbatas, karena kedua tanganku dia ikat dengan kain pula. Ternyata laki-laki itu lebih kejam dari yang pertama tadi. Dia meninju ulu hatiku sampai aku tak bisa bernapas dan serasa mau pingsan. Dengan lebih kasar dan lebih kejam dari laki-laki sebelumnya, dia menarik bajuku dan melucuti semua kain yang menempel di tubuhku. Lalu, aku dibantingnya lagi, ditarik, ditendang sampai aku tak ingat apa-apa lagi.

Saat tersadar, aku seperti berada di antara alam nyata dan mimpi. Sekelilingku terasa putih dan bau alkohol keras menembus penciumanku. Samar-samar terdengar suara-suara, yang terkadang dekat dan terkadang menjauh. Sesaat kemudian, majikanku mendekatiku. Dia tidak banyak bicara. Lalu sesaat berikutnya, majikanku yang lain masuk ke ruangan menyertai seseorang, yang belakangan kuketahui seorang dokter. Aku berpikir sedang berada di RS. Ternyata aku keliru. Aku sedang berada di salah satu kamar di rumah majikanku. Kamar tersebut memang bercat putih dan bersih. Biasanya, kamar itu digunakan untuk tamu yang menginap. Di sanalah aku dirawat. Seorang pembantu perempuan (entah dari mana), rajin merawatku. Dokter juga rajin mengunjungiku. Hingga akhirnya aku benar-benar sehat dan sembuh.

Saat aku sudah diijinkan meninggalkan kamar tempatku dirawat, aku pun menanyakan apa yang sesungguhnya terjadi padaku. Tetapi majikanku terkesan tutup mulut. Meski begitu, mereka tetap kunilai baik, bertanggung jawab hingga aku benar-benar sembuh dan diijinkan bekerja lagi. Bahkan aku juga diijinkan menikmati masa liburku di hari Minggu.

Minggu pertama sejak aku sembuh dari kejadian buruk yang menimpaku, aku langsung menuju ke proyek tempat Kang Surya bekerja. Ternyata Kang Surya sudah pindah ke barak yang lain di mana dulu ia pernah tinggal. Kakiku pun kuayun menuju ke barak yang dimaksud teman-teman Kang Surya. Aku baru saja sampai di sana ketika seseorang yang juga kukenal mengatakan bahwa Kang Surya sedang ada urusan dengan teman yang lain. Aku bermaksud menunggu Kang Surya. Di sana barang-barang pribadi Kang Surya seperti sepatu, tas dan beberapa lembar baju serta sebuah celana jeans milik Kang Surya teronggok di meja kayu kecil. Tanganku lancang menggerayangi kantong celana jeans Kang Surya. Apa yang kudapat ? Sepucuk surat dari kampungnya. Dengan lebih lancang, kubaca surat tersebut. Ternyata berasal dari istri Kang Surya. Ya Tuhan ! Aku merasa dibohongi dan dipermainkan oleh Kang Surya. Kekasihku itu ternyata sudah memiliki istri dan dua orang anak. Ketika aku bertemu Kang Surya, kekasihku itu tidak mengelak dari semua yang kutahu. Oh... betapa hancur hatiku.

Sejak itu aku tak mau keluar rumah. Kubunuh seluruh waktuku di rumah majikanku, hingga kusadari bahwa aku terlambat haid. Aku sempat minum jamu-jamu agar segera haid. Namun sampai dua bulan, bahkan empat bulan berikutnya ketika kontrak kerjaku habis, aku tetap saja tidak mendapatkan haid. Kubawa kepedihan jiwa-ragaku kembali ke tanah air setelah kontrak kerjaku usai. Aku tak ingin bekerja di luar negeri lagi. Dan, kusadari bahwa aku benar-benar hamil. Tetapi semuanya sudah terlambat. Tak ada lagi kesempatan untuk menggugurkan kandunganku karena janinku sudah telanjur besar. Pedih, sedih, malu dan segala rasa berbaur dalam dada. Namun, aku tak mampu berkata-kata sekedar membela diri. Dan, kubiarkan bayiku lahir tanpa kutahu siapa ayahnya. Bayiku laki-laki dan wajahnya mewarisi wajahku. Duh Gusti Allah, berikanlah kekuatan pada diriku ini. (Seperti dikisahkan oleh Paningsih pada Roy Pujianto)R.26

Sumber : Majalah Fakta No. 562
Read More

Comments